Sabtu, 29 September 2007

Kehilangan Ruh

Kehilangan Ruh


Sekelompok turis duduk dalam sebuah bus. Bus itu berjalan menyusuri daerah yang sangat indah –danau-danau, gunung-gunung dengan lembah nan hijau dan ngarai serta sungai di bawahnya- tetapi tirai bus tertutup. Selama perjalanan mereka meributkan siapa yang akan duduk pada kursi kehormatan di dalam bus itu, siapa yang patut diberi penghargaan. Demikianlah mereka ribut belaka sampai akhir perjalanan.

Lihatlah bagaimana orang-orang mencoba mendapatkan dunia sekaligus kehilangan ruh mereka, sehingga mereka hidup dalam kekosongan. Mereka hidup tetapi tanpa jiwa.

Jika Janin Dapat Berbicara

Jika Janin Dalam Rahim Dapat Berbicara


Sekiranya lisan kita dapat didengar janin dalam kandungan ibu, tentulah kita dapat berbincang-bincang dengannya.

“Wahai janin, bagaimana kabarmu dan apa yang sedang engkau kerjakan?”

“Segala puji bagi Allah, aku dalam keadaan baik dan sedang menikmati tidurku dalam rahim.”

“Wahai janin, adakah dalam keseharianmu engkau hanya menikmati tidurmu?”

“Benar, tapi di samping itu aku pun tidak perlu bekerja karena semua kebutuhanku sudah dipenuhi ibu melalui tali pusat ini.”

“Wahai janin amat besarlah keberuntunganmu atas apa yang Allah anugerahkan kepadamu. Tetapi janin, kalau engkau tidak bekerja mengapa Allah memberimu tangan dan kaki. Anggota badan itu diperlukan manakala engkau bekerja bukan?”

“Benar, akupun tidak mengerti, sebab tanpa kedua tangan dan kaki ini pun tidak akan ada masalah. Kebutuhanku sudah terpenuhi oleh tali pusat ini. Untuk apa kedua tangan dan kaki ini? Lagi pula dengan keberadaan mereka akan semakin mempersempit ruangku di dalam rahim.”
“Wahai janin, sekiranya Allah Ta’ala menghapuskan tangan dan kakimu saat ini bagaimana?”

“Ku kira tak ada masalah.”

Jika sekiranya Allah kemudian benar-benar menghapus 2 tangan dan 2 kaki janin, apakah yang akan terjadi manakala janin dilahirkan di dunia ini? Alangkah kecewanya janin mendapati bahwa dunia benar-benar berbeda dengan apa ia kira, sebab dunia adalah tempat bekerja dan anggota badan memegang peranan penting di sini. Dan ketika pertama kali ia dilahirkan justru sumber rejeki yang diandal-andalkan yaitu tali pusat adalah yang pertama kali dipotong oleh bidan. Apa yang dapat dilakukan tanpa anggota badan di dunia yang luas ini?

Kisah di atas adalah sebuah sebuah perumpamaan yang dapat dijadikan ibroh, mengapa manusia harus beribadah kepada-Nya, seperti mendirikan sholat, puasa di bulan Ramadhon dan lain-lain. Sering kali orang berkata: “Lihat dia yang sholatnya rajin tidak pernah naik pangkat,” atau “Lihat dia yang rajin puasanya tidak juga menjadi kaya. Bagaimana Tuhan berlaku adil terhadap hamba-Nya?” Ingatlah bahwa segala sesuatu ada masanya. Saat ini sholat kita, puasa kita dan ibadah kita yang lain ibaratkan anggota badan kita sewaktu masih janin dulu. Barangkali belum nampak manfaat dan faedahnya, lihatlah kelak di akhirat nanti, amalan-amalan kitalah yang akan menolong kita sebagaimana pertolongan anggota badan kita manakala kita berada di dunia ini.

The Last Supper

The Last Supper (Perjamuan Terakhir)


Ada sebuah kisah menarik tentang bagaimana Leonardo da Vinci melukis The Last Supper, yaitu mengenai model lukisannya.

Leonardo memutuskan untuk menggambar figur Yesus terlebih dahulu. Untuk itu ia memerlukan model pemuda dengan wajah elok dan kepribadian yang mencerminkan tanpa dosa, bebas dari guratan dosa. Setelah berminggu-minggu mencari dan menolak ratusan pemuda, akhirnya Leonardo menemukannya saat ia menghadiri misa di Katedral Milan. Penyanyi koor gereja Pietri Bandinelli ayng berusia 19 tahun ditetapkan sebagai model figur Yesus. Pemuda ini dinilai Leonardo memancarkan cinta kasih, kelembutan, kepedulian dan polos.

Selama 6 bulan Leonardo sibuk mengerjakan lukisan tokoh utamanya. Enam tahun berikutnya, ia melanjutkan karya seni tersebut. Satu demi satu model yang cocok dipilih untuk mewakili masing-masing pribadi dari ke-12 murid Yesus. Namun tidak ada model yang cocok untuk Yudas Iskariot (murid Yesus yang berkhianat. Leonardo menginginkan seorang pria dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan, ketamakan, kelicikan, kemunafikan, dan dosa. Sepuluh tahun setelah memulai melukis, akhirnya ia menemukan model terakhirnya di penjara Roma, seorang narapidana terhukum mati karena kasus pembunuhan dan kejahatan.

Leonardo bekerja dengan tergesa-gesa selama beberapa hari hingga kemudian ia menyadari perubahan yang terjadi pada modelnya. Wajahnya mulai tegang dan matanya memancarkan horor. Merasa terganggu, Leonardo menghentikan kegiatannya dan bertanya, “Apa yang membuatmu begitu terganggu?”

Sang pria menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menjawab, “Tidakkah Anda mengingat saya? Bertahun-tahun yang lalu saya ada di studio ini. Sayalah sang Yesus di lukisan Anda.” (dikutip dari Majalah Cinemagazine)

Tsunami Nabi Nuh as

Tsunami Nabi Nuh as

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.”(QS. Al Anbiya (21) : 76)

Bencana tsunami yang terjadi di Aceh, Thailand, Yogyakarta, Pangandaran dan lain-lain dapat kita saksikan kedahsyatanya.Hampir semua bangunan yang disapu gelombang itu luluh lantak sama dengan tanah. Di Aceh sendiri tercatat lebih dari 400.000 jiwa yang meninggal dan hilang akibat terjangan tsunami. Seluruh infrastruktur di bumi Nanggroe Aceh Darussalam seakan hancur total. Itulah gambaran tsunami yang terjadi di abad ini.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana dengan tsunami yang terjadi di zaman Nabi Nuh as? Digambarkan waktu itu, air bah menenggelamkan gunung, sehingga putra Nabi Nuh (Kan’an) yang enggan mengikuti ayahnya terseret gelombang dan tenggelam dalam banjir tersebut. Tsunami Nabi Nuh tidak hanya menghantam satu daerah, namun menyapu seluruh negeri nabi Nuh dan meluluh lantakkan seluruh peradaban yang telah dicapai saat itu.

Pernahkah kita membayangkan, berapa besar dan tangguh kapal yang ditumpangi nabi Nuh as berikut para pengikutnya? Teknologi macam apa yang digunakan untuk membuat kapal itu. Teknologi tingkat tinggi yang ada sekarang bahkan belum mampu menciptakan kapal yang mampu menahan gelombang tsunami sedahsyat tsunami Aceh. Apalagi menahan tsunami yang terjadi di zaman nabi Nuh as. Kapal Titanic yang diklaim sebagai kapal pesiar terkuat, ternyata harus karam hanya karena benturan dengan karang gunung es. Sedangkan kapal nabi Nuh as, mampu mengarungi sapuan gelombang tsunami, mampu menahan seluruh benturan dahsyat di samping kanan-kiri, depan-belakang. Sungguh sebuah hasil teknologi yang luar biasa. Jangan pernah memikirkan bahwa kapal nabi Nuh as terbuat dari perahu sampan kecil. Sampan kecil tentunya tidak akan pernah mampu menahan sapuan ganas tsunami, dan segera hancur berkeping-keping.

Sekarang apakah kita akan menyombongkan diri mengklaim bahwa teknologi kita saat ini sangat mutakhir. Bahkan ada yang –naudzubillah- sampai menuhankan teknologi. Padahal fakta berbicara bahwa teknologi kita sangat jauh dari teknologi orang-orang sebelum kita. Membuat kapal sekelas kapal yang dibuat nabi Nuh saja belum tentu kita sanggup. Apa yang pantas kita sombongkan?

Dokter dan Montir (I)

Dokter dan Montir (I)

Seorang dokter ahli bedah jantung mereparasikan mobilnya yang mogok pada sebuah bengkel. Montir segera datang dan menanganinya.

“Lihatlah pak dokter, sebenarnya pekerjaan saya dan Anda yang ahli bedah tidaklah jauh berbeda. Mobil-mobil yang datang kemari dalam keadaan sakit, saya harus mendiagnosis penyakitnya, beberapa harus saya bedah kemudian saya pasang lagi,” kata montir. “Dari suaranya saja, saya tahu kalau kerusakan mesin pak dokter cukup parah sehingga nanti pasti harus saya bongkar.”

“Benar,” kata dokter, “Pekerjaan kita sama-sama bedah. Tetapi pernahkah Anda membedah mesin dalam keadaan mesinnya hidup?”

Ikan dan Air

Ikan Dan Air


Seekor ikan tersesat dari rombongannya. Ia mengikuti arus hingga memasuki sungai yang membelah sebuah desa di lereng bukit. Ia sampai di tepian sungai.

Pada saat itu, di tepian sungai tengah berkumpul beberapa orang yang sedang melepas lelah setelah seharian mereka bekerja di ladang. Mereka ramai mendiskusikan banyak hal. Ikan itu mengamati dengan serius apa yang dibicarakan oleh orang-orang. Orang-orang ini membicarakan masalah air, betapa besar manfaat air bagi kehidupan. Tanpa ada air tidak mungkin akan ada kehidupan dan seterusnya.

Ikan itu begitu terkesima dengan penjelasan tersebut. Tak lama kemudian ikan itu meneruskan perjalanan mencari rombongannya. Syukurlah, tak lama kemudian ia mendapati rombongannya yang sedang berkumpul di sekitar batu dan rumput. Ia pun segera bergabung dengan mereka, teman-temannya pun menyambutnya dengan gembira karena mengira bahwa ia tidak akan bisa berkumpul ke tengah-tengah mereka lagi.

Lalu ikan ini menceritakan pengalamannya setelah terpisah dari rombongan. Tidak lupa ia ceritakan bagaimana hebatnya air bagi kehidupan. Air adalah sesuatu yang sangat berharga, karena air akan menjamin kelangsungan kehidupan. Tiba-tiba ikan ini menghentikan kisahnya. Sesaat ia terdiam, lalu ia berkata, “Teman-teman, rasanya aku sangat tertarik dengan apa yang disebut air. Aku butuh dukungan kalian, aku akan mencari air. Kalau aku temukan akan ku bawa sebanyak-banyaknya untuk kalian supaya kehidupan kalian lebih terjamin.”

Teman-temannya terbagi menjadi dua antara yang setuju dan yang tidak. Namun ikan ini tetap pada pendiriannya untuk mencari air. Dan dimulailah petualangannya mencari air.

Orang sering tidak menyadari bahwa di sekelilingnya adalah potensi. Sekelilingnya adalah sesuatu yang berharga. Orang selalu berfikir di mana aku bisa mendapatkan sesuatu, padahal segala sesuatu yang paling berharga sudah tersedia di sekitar kita

Jumat, 28 September 2007

Malam Pertama

MALAM PERTAMA ~

Apabila menyebut malam pertama, pasti semua orang akan terbayang satu malam yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Nikmat duniawi yang tiada tara! Ya, satu malam di mana pasangan pengantin baru yang sah bergelar suami isteri setelah diijab qabulkan akan bersatu, berpadu kasih lahir dan batin. Malam penuh kebahagiaan!

Pernahkah terbayang dan terlintas di benak pikiran kita satu malam lain yang juga dinamakan malam pertama, namun dianya bukanlah malam pertama perkawinan?
Pernahkah engkau melihat kuburan? Pernahkah engkau melihat gelapnya kuburan?Pernahkah engkau melihat sempit dan dalamnya liang lahat? Pernahkah engkau membayangkan kengerian dan kedahsyatan alam kubur? Sadarkah engkau bahwa kuburan itu dipersiapkan untukmu, untukku dan untuk orang-orang selain kita? Bukankah telah silih berganti engkau melihat teman-teman, orang-orang tercinta dan keluarga terdekatmu diusung dari dunia fana ini ke kuburan? Apakah Malam Pertama Kita di Alam Kubur nanti asyik dan nikmat atau penuh derita dan sengsara?

Wahai anak Adam, apa yang telah engkau persiapkan saat malam pertamamu nanti di alam kubur? Tidakkah engkau tahu, bahwa ia adalah malam yang sangat mengerikan. Malam yang menyebabkan para ulama serta orang-orang yang soleh menangis dan orang-orang bijak mengeluh. Kala itu kita sedang berada di dua persimpangan dan di dunia yang amat berbeda.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan. (QS Al Ankabut (29): 57)


Suatu hari pasti engkau akan tinggalkan tempat tidurmu (di dunia), dan ketenangan pun menghilang darimu. Bila engkau berada di kuburmu pada malam pertama, demi Allah, pikirkanlah untung nasibmu dan apa yang akan terjadi padamu di sana?
Hari ini kita berada di dunia yang penuh keriangan dengan anak-anak, keluarga dan sahabat, handai taulan, dunia yang diterangi dengan lampu-lampu dengan pelbagai warna dan sinar, dunia yang dihidangkan dengan pelbagai makanan dan minuman yang lezat-lezat serta, tetapi pada keesokannya kita berada di malam pertama di dalam dunia yang kelam gelap-gelita, lilin-lilin yang menerangi dunia adalah amalan-amalan yang kita lakukan, dunia sempit yang dikelilingi tanah dan bantalnya juga tanah. Pada saat kita mula membuka mata di malam pertama kita di alam kubur, segalanya amat menyedihkan, pekik raung memenuhi ruang yang sempit, tapi apa daya semuanya telah berakhir. Itukah yang kita mau? Pasti tidak bukan? Oleh itu beramallah dan ingatlah sentiasa betapa kita semua akan menempuhi MALAM PERTAMA DI ALAM KUBUR.

Di dalam usahanya mempersiapkan diri menghadapi malam pertama tersebut, diceritakan bahawa Rabi bin Khutsaim menggali liang kubur di rumahnya. Bila ia mendapati hatinya keras, maka ia masuk ke liang kubur tersebut. Ia menganggap dirinya telah mati, lalu menyesal dan ingin kembali ke dunia, seraya membaca ayat:
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia).Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (QS Al Mu’minun (23): 99-100)

Kemudian ia menjawab sendiri; “Kini engkau telah dikembalikan ke dunia wahai Rabi.” Pada hari-hari sesudahnya Rabi bin Khutsaim didapati sentiasa dalam keadaan beribadah dan bertaqwa kepada Allah.

Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis atas kematian dan sakaratul maut yang bakal menjemputmu? Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis atas kuburan dan kengerian yang ada di dalamnya? Wahai saudaraku, tidakkah engkau menangis karena takut kepada api Neraka di Hari Kiamat nanti? Sesungguhnya kematian pasti menghancurkan kenikmatan para penikmatnya. Oleh itu, carilah (kenikmatan) hidup yang tidak ada kematian di dalamnya. Ya Allah, tolonglah kami ketika sakaratul maut!

Justru, bersamalah kita pikirkan MALAM PERTAMA ini dengan mata hati.. Semoga cahaya kesadaran bersarang di hati kita dan nur keinsafan tertancap sekaligus melimpahi jiwa-jiwa kita. Semoga kita semua terlepas dari azab kubur dan beroleh nikmat SurgaNya di Akhirat kelak. Amiin Ya Rabbal Alamin.
Wallahu ala wa alam bissawab.