Rabu, 31 Oktober 2007

Hak Muslim

Hak Muslim

Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata Rasulullah saw brsabda: Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima:
1. Membalas salam
2. Menjenguk orang sakit
3. Mengiringi jenazah
4. Memenuhi undangannya
5. Menjawab apabila ia bersin
(HR Bukhori dan Muslim)

Napoleon

Napoleon

Seorang pasien di sebuah Rumah Sakit Jiwa tengah berusaha meyakinkan orang bahwa dirinya adalah Napoleon.

“Tapi tolong jelaskan, siapa yang mengatakan hal itu?” tanya dokter padanya.

“Tuhan yang bilang,” katanya yakin.

Namun berbarengan dengan itu terdengar suara memekik dari kamar sebelah, “Bohong! Itu tidak benar! Aku tidak mengatakan hal itu.”

Patung Liberty

Patung Liberty

Seorang guru bertanya pada murid-muridnya, “Kalian tahu patung Liberty di Amerika bukan? Nah apa arti tangan kiri memegang buku dan tangan kanan memegang obor?”

“Ah, Bapak,” sahut salah seorang muridnya, “Bukankah Bapak pernah menasihati tidak baik membaca di kegelapan.”

Perumpamaan Orang Beriman

Perumpamaan Orang Beriman

Dari Nu’man bin Basyir ra, ia berkata: Rasulullah bersabda: Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah bersabda: Sesama Muslim itu saudara. Karena itu jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memprhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan suatu kesulitan terhadap sesama mMuslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. (HR Bukhori dan Muslim)

Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesama muslim jangan mengkhianati, mendustai dan membiarkannya. Seorang muslim haram, mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang Muslim (HR Tirmizi)

Jumat, 05 Oktober 2007

Hutang Zaid bin Sa’anah

Nabi saw pernah berhutang kepada Zaid bin Sa’anah seorang Yahudi. Dua hari sebelum tiba saat pembayarannya, Zaid melihat Rasulullah saw berjalan mengiring jenazah bersama para sahabat. Kemudian Zaid menekati Rasulullah saw dan menarik selendang beliau dengan kuat sehingga terjatuh.

Zaid berkata, “Ya Muhammad tidakkah engkau mau membayar hutangmu? Demi Allah kamu dari bani Mutholib adalah pengulur utang.”

Mendengar ucapan dan menyaksikan perbuatan orang Yahudi itu, Umar ra menjadi geram dan dengan keras berkata, “Hai musuh Allah, apakah pantas kamu berbicara demikian pada Rasulullah. Berbuat seperti apa yang aku lihat dan mengucapkan apa yang aku dengar? Demi Allah kalau aku tidak dicegah aku penggal kepalamu.”

Melihat sikap Umaar ra yang berang itu, Rasulullah tersenyum dan dengan tenang berkata, “ Aku dan dia butuh yang lain dari itu. Hendaklah engkau menyuruh aku membayar utang dengan baik dan menyuruh dia berlaku dengan sopan. Pergilah hai Umar, bayarkan hak-haknya dan berikan tambahan buat dia sebanyak 20 takaran korma.”

Kemudian Umar berlalu dan ia segera kembali kepada Zaid.

Zaid bin Sa’anah bertanya, “Apa ini?”

Umar ra menjawab, “Rasulullah menyuruh aku menambah sebagai pengganti atas pertengkaran tadi.”

Zaid bertanya, “Apakah engkau mengenal aku wahai Umar?”

“Tidak.”

Zaid berkata, “Aku adalah Zaid bin Sa’anah.”

Umar bertanya, “Seorang Rabby (pemuka agama Yahudi)?”

“Ya benar.”

“Apa sebabnya engkau memperlakukan Rasulullah seperti itu?”
Zaid menjawab, “Hai Umar, tanda-tanda kenabian sudah aku ketahui dari wajahnya kecuali 2 hal, yaitu kesabarannya yang selalu mendahului kekerasan tindakannya dan yang kedua semakin buruk ia diperlakukan semakin bertambah pula pemberian maafnya. Dan aku tadi telah mengujinya. Ya Umar aku baersyahadat bahwa aku ridho Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agamaku, Muhammad nabiku, aku menyatakan separuh hartaku untuk Allah sebagai sodaqoh buat umat Muhammad saw dan aku punya banyak harta.”
Mutiara dan Makanan

Dua orang pedagang sampai ke tempat para kafilah berhenti di padang gurun di malam hari. Malam itu banyak musafir yang singgah di tempat itu. Sementara membongkar muatan untanya, salah seorang dari mereka tidak dapat menahan godaan untuk membiarkan sebuah mutiara berukuran besar jatuh ke tanah seolah-olah tanpa disengaja. Mutiara itu menggelinding ke arah pedagang yang lain, yang dengan sikap yang dibuat-buat memungutnya dan mengembalikan kepada pemiliknya sambil berkata, “Mutiara Anda ini sungguh indah, besar dan bercahaya.”

“Terima kasih atas pujian Anda,” kata yang satu, “Sebenarnya mutiara ini baru merupakan salah satu dari mutiara-mutiara yang kecil milik saya.”

Seorang Badui yang duduk di dekat api dan mengamati peristiwa itu bangkit dan mengundang keduanya untuk makan bersamanya. Ketika mereka mulai makan, Badui ini bercerita:

“Kawan-kawan, dulu saya pun pernah menjadi pedagang mutiara seperti Anda. Pada suatu hari saya dihantam badai di gurun. Badai itu menghantam seluruh kafilah saya sehingga saya terpisah dari rombongan dan sama sekali kehilangan arah. Hari-hari berlalu dan saya merasa cemas karena sadar bahwa saya berputar-putar terus tanpa tahu saya sedang berada di mana atau ke mana saya harus berjalan. Lalu ketika saya hampir mati kelaparan, saya membongkar semua kantung yang ada di punggung unta saya. Dengan was-was saya memeriksanya sampai beratus-ratus kali. Bayangkanlah betapa gembiranya saya ketika ku temukan kantung yang selama ini luput dari perhatian saya. Dengan jari-jari gemetaran saya membukanya dengan harapan menemukan sesuatu yang dapat dimakan. Bayangkanlah betapa kecewa saya, ketika ku lihat bahwa semua yang ada di dalamnya adalah mutiara!”

Kalau burung pipit membuat sarang di hutan
Sarang itu hanya menempati sebuah ranting
Kalau rusa memuaskan dahaganya di sungai
Ia minum tidak lebih dari yang dapat ditampung lambungnya

Kita mengumpulkan barang dan hartaKarena hati kita kosong
Renungkanlah!

Kita memiliki 4 minggu yang sama dalam 1 bulan.
7 hari yang sama dalam 1 minggu
24 jam yang sama dalam 1 hari

Dalam 24 jam itu
Ada dari kita yang bisa mengurus negara, perusahaan raksasa
Rumah Sakit Internasional bahkan mengendalikan Angkatan Perang
.........
Namun dalam 24 jam yang sama
Ada yang bahkan mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu....

Ada di antara kita yang menerima bayaran 5 juta rupiah
Dan selalu kekurangan dalam setiap bulannya
Sehingga ia harus menutupnya dengan berutang sana-sini
Dan ia semakin terjerat karenanya

Namun ada yang hanya menerima 500 ribu rupiah
Ia bisa mengembangkan bisnisnya
Bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi
Bisa menyisihkan sebagian untuk tabungan
Bisa menyisihkan sebagian untuk kaum miskin
Bahkan ia bisa membawa serta kedua orang tuanya naik haji.

Dimanakah letak perbedaanya? Apakah waktu dan penghasilan yang kurang? Bukan, tetapi manajemenlah yang berbeda dari keduanya.