Nasib Si Buruk Rupa
Suatu hari ada seekor kupu-kupu terperangkap dalam sarang laba-laba. Kupu-kupu malang ini berontak ke sana-kemari untuk melepaskan diri dari jerat sarang laba-laba. Namun semua sia-sia, bahkan jeratan sarang itu semakin kuat.
Di tengah perjuangan hidup dan mati ini, lewatlah seorang anak kecil. Anak ini memperhatikan perjuangan kupu-kupu malang. Timbullah rasa iba di hati anak. Sambil melepaskan kupu-kupu ini dari jerat sarang laba-laba, anak ini berkata, “Kasihan engkau kupu-kupu cantik. Tentu engkau sudah kepayahan dari tadi untuk melepaskan diri. Lain kali hati-hati ya, sekarang terbanglah cantik. Hiasi awan dengan sayapmu yang indah.” Dan kupu-kupu pun selamat dari jerat. Seakan tahu berterima kasih kupu-kupu ini mengitari si anak kemudian terbang bebas ke angkasa.
Beberapa hari berselang, anak ini melewati tempat di mana kupu-kupu pernah terjerat sarang laba-laba. Dan ternyata di sarang laba-laba yang sama kini telah terjerat pula seekor ulat yang malang. Rupanya ulat ini terjatuh manakala sedang mencari makan. Ulat malang ini berjuang sekuat tenaga melepaskan diri dari jerat itu. Seluruh tubuhnya berontak namun tak jua membuahkan hasil. Justru ulat malang ini semakin terjebak dan terikat. Anak ini memperhatikan perjuangan ulat malang itu, namun anak ini tidak segera bertindak untuk menolong ulat malang ini. Anak ini berkata, “Salahmu sendiri kau ulat buruk rupa tidak berhati-hati. Kena batunya kan sekarang. Biar saja jerat itu membungkus dirimu dan engkau akan dimangsa laba-laba.” Setelah berkata seperti itu, si anak segera meninggalkan ulat malang yang sedang berjuang hidup dan mati tanpa perasaan sesal sedikitpun.
Kasihan ya, ternyata untuk bisa ditolong harus cantik terlebih dahulu… Disadari atau tidak tapi ternyata itulah yang kita lakukan sehari-hari. Selalu kita lihat siapa dia, rupanya, hartanya dan kedudukannya. Seorang tenaga medis akan melihat pasiennya orang berada atau tidak, keluarga miskin atau bukan, dan lain-lain. Sehingga disadari atau tidak seringkali tenaga medis meremehkan keluarga miskin dan mengutamakan mereka yang berpunya. Seorang praktisi hukum akan mencari jalan untuk membenarkan kliennya yang sanggup membayar mahal, sehingga disadari atau tidak kebenaran bisa dibeli dengan uang. Sekali lagi, kasihan ya…untuk bisa ditolong ternyata harus cantik dulu, harus kaya dulu. Bersyukurlah bagi hamba-hamba Allah yang ikhlas, dan menjalankan profesinya karena ibadah karena-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar