Rabu, 19 September 2007

Kegagalan

Kegagalan


Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus atau bahkan tidak mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam menuju kepahlawanan. Dan karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan,” kata seorang penyair Arab.

Membebaskan kota Konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad al Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb adalah sebuah mimpi delapan abad dari kaum Muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad al Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan padanya.

Tapi bila Muhammad al Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini, “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”

Rahasia pertama adalah mimpi yang tidak pernah selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Ia tidak boleh menyentuh setitik pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti itu akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan, “kata seorang penyair.

Rahasia kedua adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah menganggap dirinya Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat hidup manusia, maka ia ‘memaafkan’ dirinya untuk kegagalan itu. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Kegagalan adalah objek penghalang yang harus dipelajari untuk kemudian diubah menjadi pintu kemenangan. Dan demikianlah kita seharusnya mendefinisikan pengalaman: “Bahwa ia adalah intervensi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.”

Rahasia ketiga adalah kepercayaan terhadap waktu. Setiap peritiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Tapi para pahlawan biasanya memiliki cara lain untuk mengenalinya atau setidak-tidaknya meraba rasakan, yaitu firasat. Mereka ‘memfirasati zaman’ walaupun mungkin benar mungkin salah tapi berguna untuk membentuk kecenderungannya. Tapi firasat bagi mereka adalah faktor intuituf yang menyempurnakan faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan (Anis Matta)

Tidak ada komentar: